Mengenal Seluk Beluk FOB Shipping Point Adalah Apa Dan Jenis Transaksi Lainnya

FOB Shipping Point Adalah

Dalam melakukan kegiatan jual beli barang apalagi yang dilakukan dalam skala besar. Sangat perlu dibentuk perjanjian yang kuat di awalnya. FOB Shipping point adalah salah satu dari bentuk kesepakatan itu. Ada juga berbagai jenis transaksi dan kesepakatan lainnya yang bisa dibentuk. Tergantung, bentuk bisnis, produk yang dijual dan sebagainya.

Syarat-syarat dalam kesepakatan itu harus ditepati oleh kedua pihak. Baik yang membeli maupun yang menjual barang. Syarat-syarat tersebut biasanya meliputi proses penyerahan atau pengiriman barang dan pembayaran barang.

Karena ada banyak bentuk dari persyaratan tersebut tidak hanya perjanjian FOB shipping point saja. Pada artikel ini akan dibahas secara mendetail mengenai kesepakatan dan perjanjian yang berkaitan dengan pengiriman barang ini.

Pengertian dari FOB atau Free On Board

Sebelum mengetahui jenis-jenis dari FOB itu sendiri, yang salah satunya adalah FOB shipping point. Anda harus mengenal dulu arti dari FOB itu sendiri. Walaupun, istilah ini sering digunakan dalam dunia bisnis dan jual beli dalam berbagai skala. Namun, tidak banyak orang yang menyadari kepanjangan dari istilah ini.

FOB merupakan singkatan dari Free On Board atau dalam Bahasa Indonesia, bisa diartikan juga sebagai bebas biaya di atas kapal. Istilah ini digunakan untuk membahas pertanggungjawaban barang yang dibeli. Apabila, dalam perjalanan dan pengirimannya terjadi kerusakan atau hal yang tidak diinginkan lainnya.

Jadi, apakah penjual yang bertanggung jawab jika ada kerusakan?. Apakah pembeli harus menerima barang yang didapatkan dan penjual tidak ikut bertanggung jawab. Hal ini harus disepakati dari awal, sehingga tidak terjadi perselisihan jika sesuatu terjadi.

Perlu diketahui, FOB merupakan skema internasional yang diterbitkan sendiri oleh ICC. Skema ini wajib diikuti baik oleh pembeli maupun penjual di seluruh dunia. Tujuannya untuk memperjelas hak dan kewajiban dari penjual maupun pembeli.

Secara sederhana, FOB adalah kondisi penyerahan barang yang dibeli sesuai dengan perjanjian yang sudah disepakati sebelumnya.

Konsep Dasar dari FOB

Untuk lebih memahami sistem dari FOB, tentu saja Anda harus memahami bagaimana konsep dasar FOB itu sendiri. Berikut adalah konsep dasar dari FOB yang menyangkut kewajiban dari importir dan eksportir yang harus diperhatikan.

Pihak penjual atau eksportir memiliki kewajiban untuk menyerahkan barang dan memastikannya berada di atas kapal. Penjual juga menjadi pihak yang mempersiapkan izin ekspor pembiayaan pajak, clean on board receipt untuk pengiriman barang.

Pihak pembeli atau importir adalah pihak yang mengurus pengiriman, perjanjian dengan pihak ekspedisi, melunasi pembayaran kargo, dan menanggung biaya asuransi dari produk yang dikirimkan.

Pada suatu kondisi, misalnya saat terjadi kehilangan atau kerusakan pada barang yang dikirim. Maka terjadi pemindahan tanggung jawab dari pihak penjual ke pihak pembeli. Batasannya adalah pagar kapal pada saat pengiriman. Artinya, jika barang sudah melewati pagar kapal. Barang tersebut, bukan lagi tanggung jawab dari pengirim.

Kondisi ini memang menguntungkan bagi para penjual atau pihak eksportir. Pengemasan barang bisa dilakukan dari negara sendiri. Selain itu, pengurusan dokumen terkait barang yang dikirimkan menjadi lebih mudah untuk diurus.

Kewajiban Kedua Belah Pihak dalam Perjanjian FOB

Pada pengertian FOB di atas, kita bisa mengetahui sebenarnya pada perjanjian FOB masing-masing pihak memiliki kewajiban dan tanggung jawabnya masing-masing. Berikut adalah tanggung jawab baik penjual maupun pembeli dalam perjanjian FOB.

1. Kewajiban Sebagai Penjual

Bertanggung jawab dalam menyiapkan produk yang sesuai dengan kontrak penjualan yang disetujui oleh kedua pihak.

Mengurus dan memperoleh perizinan untuk melakukan ekspor.

Melakukan pengiriman barang menuju Pelabuhan agar dapat dimuat kapal yang ditentukan. Pengiriman harus dilakukan pada tanggal dan periode tertentu yang sudah disepakati sebelumnya.

Melakukan konfirmasi pada pihak pembeli jika barang sudah berada dalam proses pengiriman. Termasuk, jika barang sudah masuk ke dalam kapal.

Menanggung biaya cek kualitas, pengukuran, penimbangan berat barang, kemasan, penanda barang, dan sebagainya untuk menunjang keamanan barang dalam pengiriman.

2. Kewajiban Sebagai Pembeli

Melakukan pelunasan terhadap barang yang sudah dipesan sesuai dengan tagihan yang diatur di kontrak penjualan.

Mengurus dan memperoleh izin impor yang diperlukan untuk proses pengimporan barang.

Melakukan pengambilan barang jika barang yang dikirimkan sudah datang. Sesuai dengan periode yang ditentukan sebelumnya dalam kontrak.

Melakukan pembookingan lahan pada kapal dan menyampaikannya pada pihak penjual atau eksportir.

Melakukan pembayaran terhadap biaya dan resiko pada barang yang terjadi di atas kapal.

Itulah rincian dari kewajiban baik pembeli maupun penjual dalam konsep FOB. Kewajiban dan tanggung jawab ini harus dipenuhi oleh masing-masing pihak.

Jenis Kesepakatan FOB

Jenis kesepakatan FOB sendiri sebenarnya ada sangat banyak. Namun, ada dua jenis FOB yang paling sering diterapkan. Yaitu, FOB yang ditanggung oleh pihak yang mengirim dan FOB yang ditanggung pihak yang menerima. Pertama adalah kesepakatan FOB yang ditanggung oleh pembeli yang disebut sebagai FOB Shipping point. Kemudian, ada kesepakatan FOB yang ditanggung penjual yang disebut sebagai FOB Destination point.

Kedua jenis kesepakatan ini pastilah sangat berbeda. Karena itu, berikut akan dibahas selengkapnya pengertian masing-masing jenis kesepakatan ini.

1. Pengertian FOB Shipping Point

Free On Board Shipping Point atau FOB Shipping point adalah jenis kesepakatan FOB di mana, pembeli akan menanggung semua biaya pengiriman atau ongkos kirim dari barang. Jadi, biaya kirim dari tempat penjual menuju tempat pembeli akan ditanggung oleh para pembeli sendiri.

Dalam jenis kesepakatan ini, walaupun barang yang dibeli pembeli masih dalam perjalanan dan belum diterima oleh si pembeli. Maka, harus tetap dicatat dalam catatan akhir saat menutup buku perusahaan. Jadi, harus sudah hilang dari catatan persediaan.

Karena dengan perjanjian ini, maka begitu barang keluar dari tempat penjual. Barang sudah resmi menjadi barang milik pembeli. Inilah yang dimaksud dengan FOB shipping point.

2. Pengertian FOB Destination Point

Selain FOB Shipping Point selanjutnya akan dibahas jenis kesepakatan FOB yang lainnya. Jenis FOB tersebut adalah FOB Destination Point. Free On Board Destination Point memiliki sistem yang berkebalikan dengan FOB Shipping Point.

Pada kesepakatan FOB Destination Point, para penjuallah yang akan menanggung semua ongkos kirim dari barang. Dari Gudang penjual hingga mencapai tempat pengiriman yang ditentukan oleh pembeli.

Karena, biaya pengiriman ini ditanggung oleh penjual. Pada saat tutup buku, barang harus dipastikan sampai ke tangan penjual terlebih dahulu. Barulah, barang tersebut bisa dipindahkan posisi ketersediaannya.

Jika di FOB Shipping Point, saat barang keluar dari Gudang penjual maka sudah menjadi milik pembeli. Pada FOB Destination Point, barang tersebut masih milik penjual sampai para penjual menerima barang tersebut.

Kedua jenis FOB ini memilih kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Bagi importir maupun eksportir yang ingin melakukan salah satu dari perjanjian di atas. Bisa memilih salah satu yang dirasa paling tepat untuk dilakukan.

Keuntungan Penggunaan Sistem FOB

Keuntungan sistem FOB dalam penjualan adalah adanya kesempatan bernegosiasi dengan forward. Jadi, penjual bisa mendapatkan biaya yang lebih murah efisien. Selain itu, pengiriman melalui sistem ini bisa dibilang yang paling singkat. Apalagi, jika dikirim sampai ke Indonesia.

Sistem FOB juga akan memudahkan untuk mengklaim biaya  asuransi. Jika saja, terjadi kecelakaan atau hal yang tidak diinginkan pada barang selama pengiriman. Pemilik barang tinggal menghubungi broker dari pihak asuransi.

Sekilas Mengenai CIF dalam Perdagangan

Selain FOB, ada jenis transaksi dan sistem lain yang bisa digunakan oleh Anda. Sistem itu bernama CIF yang merupakan singkatan dari Cost, Insurance and Freight. Secara sederhana, CIF adalah metode pembayaran di mana proses pengadaan barang yang diinginkan pembeli menjadi tanggung jawab penjual sepenuhnya.

Jadi, pihak eksportir juga memiliki tanggung jawab biaya untuk biayar perjalanan barang hingga sampai di tempat tujuan. Sistem ini juga membuat pihak eksportir yang menanggung biaya bongkar muat dan kargo barang. Termasuk dengan biaya komoditas barang.

Sekilas, kebijakan ini terdengar merugikan bagi pihak penjual. Namun, sebenarnya tidak juga, jika pembeli ingin memakai kesepakatan CIF dalam proses jual beli. Biasanya pihak pembeli atau importir harus membayar biaya lebih mahal.

Karena harga barang sudah dimasukkan ke dalam harga pertanggungan yang sudah disebutkan sebelumnya. Sistem ini juga bisa menjadi sistem yang cukup menguntungkan, baik untuk pihak penjual atau eksportir dan pihak pembeli atau importir.

Konsep Dasar dari Penerapan CIF

Untuk mengetahui lebih detail perbedaan antara metode FOB dan CIF. Setelah membahas konsep dasar FOB. Selanjutnya, akan dibahas mengenai konsep dasar yang diterapkan dalam CIF.

Pada pengertian sebelumnya, kita mengetahui bahwa penjual menanggung hampir semua pembiayaan dan pengiriman barang. Hal ini berarti, tanggung jawab pihak penjual atau eksportir akan menjadi jauh lebih besar. Berikut adalah hal-hal yang menjadi tanggung jawab eksportir yang perlu diperhatikan.

Mengurus dan melunasi pembayaran yang berkaitan dengan premi dan asuransi barang.

Memantau dan mengurus keseluruhan proses pengiriman dari Gudang hingga ke kapal.

Mengurus dan memperoleh segala hal berkaitan dengan perizinan barang yang akan di ekspor. Termasuk di dalamnya yang berkaitan dengan keamanan barang yang dikirim.

Menyelesaikan pengemasan barang agar sesuai dengan standar pengangkutan barang ke luar negeri.

Melakukan pengadaan barang yang sesuai dengan yang tertera di kontrak yang sudah disepakati bersama.

Ada banyak sekali kewajiban dan tanggung jawab penjual dalam metode CIF ini. Namun, bukan berarti metode ini adalah hal yang merugikan bagi pihak penjual atau eksportir. Karena, jika pihak penjual atau eksportir bisa melakukan pengiriman dengan baik.

Maka, pihak eksportir dipastikan akan mendapatkan keuntungan yang besar. Karena biaya dalam metode CIF lebih tinggi daripada metode yang lainnya.

Ilustrasi Penerapan FOB dan CIF

Anda sudah mengetahui tentang pengertian FOB dan CIF bahkan konsep dasarnya juga sudah dijelaskan. Mungkin, Anda akan kesulitan dalam memahami karena rincian diatas hanya secara teori saja. Karena itu, berikut akan dijabarkan ilustrasi dari penerapan FOB dan CIF.

Misalnya saja ada PT.QWERTY yang bertransaksi dengan PT.ZXCVB yang kantornya ada di luar negeri. PT. QWERTY menawarkan kerja sama untuk menyediakan bahan baku makanan tertentu pada PT. ZXCVB. Merasa tertarik keduanya sepakat dengan harga $120/kg bahan makanannya.

Jika PT.QWERY dan PT.ZXVCB menggunakan sistem FOB dalam pengirimannya. Maka, biaya yang dikeluarkan PT.ZXVB lebih rendah dibandingkan PT.QWERTY. Karena PT.ZXCVB tidak menggunakan jasa pengiriman maupun pengurusan dokumen dari PT.QWERY.

Sedangkan, Jika PT.QWERY dan PT.ZXVCB menggunakan sistem CIF. PT. ZXCVB pasti akan mengeluarkan biaya yang lebih besar lagi pada PT.QWERY. Namun, setelah itu PT.ZXCVB tidak perlu mengeluarkan dana apapun lagi. Bahkan, tidak perlu melakukan pengurusan dokumen tertentu.

Hal ini, karena semua sudah ditanggung oleh PT.QWERTY. PT.ZXCVB tinggal menunggu kedatangan produk yang diinginkan saja. Namun, tentu saja PT.ZXCVB haus mengeluarkan biaya ekstra untuk mendapatkan pelayanan ini.

Berdasarkan ilustrasi di atas, Anda bisa memahami perbedaan dari penerapan sistem FOB dan CIF. Tentu saja, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Baik pihak pembeli atau importir atau pihak penjual atau eksportir. Harus-harus pintar dalam menimbang hal ini.

Harus mampu menghitung dengan harga yang tepat dan akurat. Jadi, bisa mendapatkan harga yang terbaik, selain itu sistem yang paling tepat untuk diterapkan di perjanjian yang akan dibuat oleh kedua pihak.

Pentingnya Keberadaan Asuransi Barang dalam Proses Ekspor dan Impor

Baik dalam metode FOB maupun CIF, semuanya mementingkan keberadan asuransi untuk barang dan komoditas yang dikirimkan. Semua metode memang memiliki kewajiban asuransi yang bisa direncanakan dan disepakati bersama oleh kedua pihak.

Ternyata, keberadaan asuransi ini tidak bisa diremehkan. Perannya sangat penting dalam proses impor dan ekspor barang. Berikut adalah alasan pentingnya keberadaan asuransi dalam proses ini.

1. Memberikan Perlindungan Resiko Terhadap Barang

Setiap proses pengiriman barang tidak bisa terlepas dari berbagai resiko. Mulai dari resiko kecelakaan, resiko pencurian, barang yang hilang, atau mungkin bencana dan kecelakaan lainnya. Keberadaan asuransi sangat penting untuk situasi semacam itu.

Jadi, jika ada sesuatu yang terjadi pada barang. Pembeli dan penjual tidak hanya bisa sekedar gigit jari saja. Namun dapat mengetahui pihak mana yang bisa dimintai pertanggung jawaban.

2. Memberikan Ganti Rugi

Jika sesuatu terjadi pada barang, misalnya saja kecelakaan atau kerusakan. Barang hilang atau barang rusak saat sampai ditangan pembeli jadi tidak bisa digunakan. Para pembeli atau importir tidak perlu khawatir.

Karena, pihak importir maupun para pihak eksportir bisa meminta pertanggung jawaban dari pihak asuransi. Bertanggung jawaban ini berupa uang ganti rugi. Asuransi sangat cocok terutama untuk pihak yang melakukan pengiriman barang yang bernilai sangat tinggi atau mahal.

3. Memberikan Rasa Aman Bagi Pihak Pembeli atau Importir

Jika barang yang sedang dalam proses pengiriman memiliki perlindungan terhadap hal-hal yang tidak diinginkan. Tentu saja, hal ini akan membuat pihak pembeli atau importir merasa lebih tenang dan aman.

Selain itu, bagi eksportir keberadaan asuransi sangat berpengaruh untuk menarik minat importir untuk menggunakan jasa mereka. Karena asuransi menjadi jaminan keamanan barang. Sesuai dengan nominal tertentu yang dibebankan pada asuransi.

Secara general, keberadaan asuransi sangatlah penting tidak hanya pada sistem FOB saja. Namun juga, pada sistem CIF. Pada dasarnya keberadaan asuransi sangat dibutuhkan dalam pengiriman barang antar negara. Apalagi, jika barang yang dikirimkan merupakan barang yang bernilai dan sangat berharga.

Itulah pembahasan mengenai FOB Shipping point adalah apa begitu pula dengan jenis transaksi lainnya. Semuanya dijelaskan cukup detail, semoga informasi ini berguna untuk Anda yang ingin memulai bisnis ekspor dan impor.

Artikel Lainnya

Konsultasi gratis sekarang